Tuesday, 28 February 2017

Melatih Kemandirian #day2

Taraaaaaa...

Hari ke2 melatih kemandirian Duo Binar. Hasilnya?

Alhamdulillah untuk si Mas berjalan lancar, sudah mau berangkat tidur sendiri, dan tidak memanggil-manggil lagi di tengah malam. Semoga bisa berlanjut dengan 'aman'.

Untuk Adik, alhamdulillah  dia bangun sebelum subuh, dan segera menuju ke kamar mandi dengan sendirinya. Tapi olalaaaa, kemanjaannya beralih, minta disuapin. Padahal sehari-hari kalau lapar langsung ambil nasi dan lauk sendiri tanpa ditawari. Makannya pun lahap. Hari ini perlu saya bujuk-bujuk untuk meneruskan kebiasaan makannya yang sudah sangat mandiri. Belum berhasil, dan saya akhirnya kalah dengan memberikan tawaran 'ibu suapin 2 sendok aja ya."

Malam ini, sebelum tidur, saya ajak berdiskusi dulu tentang kebiasaan bangun subuh, dan dia meminta untuk dipasang alarm sebelum adzan. Dan segera saya siapkan.

Semoga besok berjalan lancar. Aamiiin...


#tantangan10hari
#hari2
#melatihkemandirian
#kelasbunsayiip
#bundasayang

Monday, 27 February 2017

Melatih Kemandirian #day1

Hmmm, melatih kemandirian. Satu tantangan buat saya. Karena saya selama ini masih suka merasa ga tega, kasihan. Tapi saya tahu bahwa suatu saat saya harus tega melakukannya, karena saya tidak selamanya bersama mereka. Dan inilah saatnya.

Merenung dan berdiskusi dengan suami, akhirnya kami memutuskan melatih kemandirian untuk berani tidur sendiri untuk si Mas. Kami hanya bertugas mengantarkan ke kamar, membacakan buku, menemani berdo'a dan kemudian ditinggal. Selama ini kami terkadang masih menungguinya sampai benar-benar tertidur dan baru berani meninggalkannya.

Protes? Iya, si Mas pun bertanya, kenapa? Kan cuma sebentra aja Ibu nungguinnya? Paling cuma beda 10 menit, katanya. Saya jelaskan bahwa Mas sudah besar, sudah waktunya berani berangkat tidur sendiri. Gimana kalo nanti Mas sekolah jauh dari Ibu sama Ayah? Kan harus bisa tidur sendiri tuh, jawab saya.

Tantangan kemandirian untuk si Adek adalah bangun sendiri ketika Subuh. Adek terkadang sudah bangun saat adzan subuh tapi masih males-malesan di kasur. Dan kalo sedang kumat manjanya, dia minta digendong ke kamar mandi. Duh ini yang saya masih suka ga tega. Ga papa gendong ke kamar mandi asal Adek bisa sholat tepat waktu.

Ketika Adek diberi tahu, wajahnya langsung cemberut. Tapi...

Bismillah, insyaAllah jika kami konsisten untuk melaksanakannya, kami bisa. Mas bisa, Adek bisa...

Yes, I can...

#tantangan10hari
#hari1
#melatihkemandirian
#kelasbunsayiip

Homemade Banana Ice Cream

Mendadak diajak Ayah ke Banjarmasin untuk servis mobil. Dan langsung galau, karena banyak makanan di rumah. Biasanya kalo ada rencana pergi keluar kota, maka beberapa hari sebelumnya ga akan nyetok di kulkas. Akhirnya pisang yang ada pun hanya sempat memasukkan ke dalam kulkas.

Sepulang dari Banjarmasin, saya pun bingung dengan pisang-pisang dingin yang menumpuk di kulkas. Iseng-iseng googling mencari resep olahan pisang, dan saya dapat resep homemade banana ice cream dari jtt punya mba Endang.

Akhirnya pagi hari sebelum berangkat kerja, saya sempatkan untuk memotong-motong pisang menjadi ukuran kecil dan memasukkannya ke dalam freezer. Sepulang kerja, alhamdulillah sudah beku dan siap untuk dieksekusi. Karena blender saya agak sedikit ringkih, yaaaa faktor usia lah, maka saya membaginya menjadi beberapa bagian. Memblender pisang-pisang beku menjadi halus, dan menambahkan satu sachet susu bubuk full cream. Dan kemudian membekukannya kembali.

Sepulang jemput anak-anak sekolah, pisang halus yang sudah dibekukan ladi diblender ulang. Nah ini tips untuk membuat es krim yang super lembut. Semakin banyak kita mengulang proses membekukan - memblender - membekukan - memblender, maka semakin lembut es krim yang dihasilkan. Tapi saya hanya mengulangnya 2x, karena anak-anak sudah tidak sabar.

Dengan sedikit topping choco chips dan selai blueberry, banana ice cream siap disantap. Horeeee......

Wednesday, 15 February 2017

Komunikasi Produktif Itu...

Komunikasi. Suatu hal yang kita lakukan sehari-hari, bahkan sejak lahir. Namun, walaupun telah terbiasa melakukannya, tidak semua orang mampu berkomunikasi secara produktif meskipun usia beranjak dewasa. Seperti saya contohnya. 35 tahun berkomunikasi, masih belum juga ahli.

12 gaya komunikasi yang populer (yaitu memerintah, menyalahkan, meremehkan, membandingkan, memberi cap, menasehati, mengancam, membohongi, menghibur, mengkritik, menyindir, menganalisa) namun tidak produktif ini seringkali saya lakukan, baik kepada suami, anak, teman dan juga diri saya sendiri. Dan efeknya? Membuat hidup saya menjadi 'menderita'. Kenapa? Karena pantulan energi negatif yang selama ini saya pancarkan semakin banyak.

Itu dulu. Saat ini, saya sedang berjuang untuk mempraktikkan komunikasi produktif. Dan bersama kelas bunda sayang, saya merasa lebih mudah melaksanakan perubahan ini karena adanya panduan, teman yang senasib sepenanggungan, dan juga mentor yang berpengalaman.

Baru berjalan satu bulan, dan saya merasa sedikit melakukan perubahan dengan gaya komunikasi. Namun efek yang saya rasakan sungguh luar biasa. Saya bisa ngobrol santai dan berbicara dengan suami dan anak-anak tanpa emosi dan tanpa nada tinggi. Respon yang mereka berikan pun saya rasakan sungguh luar biasa.

Saya menikmati hasilnya, dan saya tahu, perjuangan pembelajaran ini tidak berhenti disini. Saya harus terus belajar, menerapkan kaidah-kaidah komunikasi produktif. Belajar mendengar, belajar berempati, kontak mata, bahasa non verbal,memilih waktu yang tepat dan lain sebagainya.

Semoga saya bisa selalu istiqamah. Aamiin...

#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Apa Yang Harus Saya lakukan Agar Ayah Tidak Menikah Lagi?

Saya mengakhiri pillow talk kami malam ini dengan pertanyaan "apa yang harus saya lakukan agar Ayah tidak menikah lagi?"

***
Obrolan kami malam ini tentang pernikahan, dan akhirnya mulai ngelantur kemana-mana.

Tentang si A, yang terkenal sebagai pria flamboyan, dan ternyata baru punya istri muda, walaupun istrinya menurut saya sungguh cantik jelita.

Tentang si B, yang memutuskan berpisah dengan suami, karena melihat sms mesra seorang wanita di hp suaminya.

Tentang C dan D, pasangan yang sungguh saya kenal tampak tanpa masalah, dan ketika terakhir saya bertemu, ternyata mereka telah berpisah karena suami menikah lagi tanpa sepengetahuan sang istri.

Tentang E, F , G dan seterusnya.

Pernikahan adalah hal yang kompleks, karena menyatukan dua orang yang berbeda, dan juga menyatukan dua keluarga yang kemungkinan sangat bertolak belakang.

Ada banyak tantangan di dalamnya. Ada yang berhasil melewatinya meski terseok- seok, ada juga menyerah di tengah jalan.

Teringat dengan nasehat seorang mentor dikala pelatihan, agar tak pernah lupa mendoakan suami, karena godaan selalu ada.

Poligami, walaupun halal dan diperbolehkan, namun saya pribadi saat ini belum sanggup untuk menerima dan menjalaninya. Sedangkan perselingkuhan, tentu saja adalah hal yang haram, karena memang telah dijelaskan dalam AlQur'an.

Oleh karena itu, percakapan saya tutup dengan pertanyaan "apa yang harus saya lakukan agar Ayah tidak menikah lagi?"