Monday, 4 September 2017

Tentang Setip, Penghapus dan Ketapel

"Mas, setip dong, setip," teriak saya, ketika saya keliru mengisi buku penghubungnya.

Dan dia pun bengong melihat saya.

"Ibu nih bilang apa sih, setip setip," jawabnya.

Dan saya pun tertawa melihat wajah bingungnya. Saya baru sadar kalau dia tidak mengerti arti kata setip.

"Eh, maaf Mas, setip itu penghapus. Minta tolong dong ambilkan, ini ibu keliru ngisi buku penghubungmu."

"Itu bahasa apa Bu?"

"Bahasa Jawa lah," jawab saya.

Seketika, saya ingat kejadian saat saya kecil, ketika saya dan saudara-saudara sepupu berkumpul di rumah Nenek. Saat itu kami beramai-ramai mencoba mengambil buah jambu dengan ketapel. Mendadak ada rombongan burung yang terbang melintas.

"Setip, setip, cepetan setipen," kata saudara sepupu saya.

Saya dan saudara-saudara yang lain bengong. Apanya yang disetip? Jambu? Burung? Dihapus?

"Lhaaa, kesuwen, manuke wis ilang kabeh," kata sepupu saya yang tadi teriak-teriak setip.
(kelamaan, burungnya udah hilang semua)

"Opo to Mas Ais ki, setip setip. Opone sing disetip?"
(Apa sih Mas Ais ini, setip setip. Apa yang mau disetip?)

Iku mau, manuke disetip!
(Itu tadi, burungnya disetip)

"Lha lapo manuk mabur kok disetip?" Tanya saya sambil ketawa.
(Kenapa burung terbang kok disetip?)

"Iki lho, disetip," lanjutnya sambil memegang ketapel.

Oalaaaaah, kami semua tertawa, baru ngerti, kalau disetip itu diketapel.

Hahaha, beda tempat, beda bahasa.

Karena itulah, ada pepatah, dimana bumi diinjak, disitu langit dijunjung.

※※※

Si Mas pun tertawa ngakak ketika mendengar cerita saya.

Friday, 11 August 2017

Matematika, Siapa Takut?

Menyelesaikan tantangan 10 hari I Love Math, rupanya sulungku sudah mulai jatuh cinta dengan matematika.

Dia tidak lagi mengeluh dan menangis ketika ketemu matematika. Hehehe, alhamdulillah...

#AliranRasa
#ILoveMath
#MathAroundUs
#KuliahBunSayIIP

Thursday, 10 August 2017

Hati-hati Menjaga Hati

Pernah merasakan susahnya menjaga hati?

Saya sering 😭.
Berulang kali dan dalam banyak hal.

Mendadak pengen ganti profil di WA dengan foto. Dan baru sadar setelah dikomentari teman.

Mendadak pengen tampil dan tampak bisa dihadapan orang. Dan baru sadar ketika diingatkan suami.

Saya yang kebetulan bekerja, berkecimpung di beberapa kegiatan sosial, dan aktif di komite sekolah anak, tentunya akan sering berinteraksi dengan banyak orang. Dan disitulah saya sering terjebak dengan masalah hati. Karena saya kurang hati-hati dalam menjaga hati.

Kadang, saya berfikir, haruskah saya mengurangi intensitas saya bertemu dengan banyak orang, agar hati ini tetap terjaga. Tak ada lagi riya yang melanda, dan bisa menjaga keikhlasan.

Mungkin itulah sebabnya, Allah memerintahkan kita untuk menjaga pandangan. Biar ga pengen ini itu, ga pengen kaya ini itu, ga pengen dilihat ini itu.

Huuuufffttt. Harus banyak istighfar kayanya. Dan harus sering-sering kembali menata niat.

***
Edisi curcol pagi, ketika galau melanda.

Thursday, 3 August 2017

Bermain Zakati

Dua atau tiga tahun yang lalu, saya ditawari oleh seorang teman, permainan anak-anak sejenis monopoli, namun lebih islami, namanya Zakati.

Permainan ini jadi salah satu permainan kesukaan Duo Binar dan Ayah, terutama kalau hari libur, karena perlu waktu yang tidak sebentar. Saya, cukup jadi bank.

Permainan ini, ternyata menjadi salah satu cara untuk belajar matematika sambil bermain. Mata uang yang tersedia pun, selain rupiah, ada juga dinar. Menambahkan, mengurangi, bahkan mencari nilai dalam persentase.

Lumayan bikin heboh, karena selain bersaing jumlah aset, mereka juga bersaing dalam hal sedekahnya.

Seru, iyaaaa, bahkan untuk bermain, bisa sampai beberapa putaran, dan si Zakati akan tetap ditempat selama berhari-hari 😍

#ILoveMath
#MathAroundUs
#KuliahBunSayIIP
#level6
#day10

Tuesday, 1 August 2017

Berdamai Dengan Diri Sendiri

Astaghfirullah....

Entahlah, saya sendiri ga tau, kenapa saya begini. Masih suka iri dengan orang lain.
Lihat si A, yang bisa selalu mendampingi anak-anaknya berkegiatan.
Lihat si B, yang bisa berkreasi dan sukses dengan kegiatan masak-memasaknya.
Lihat si C, yang pandai mengolah berbagai kerajinan tangan.
Lihat si D, dengan rentetan kegiatan yang bermanfaat untuk orang banyak.
Lihat si E, yang tinggal di kota besar, dan segala kemudahan untuk mendapatkan berbagai informasi.
Lihat si F, yang mengabdikan dirinya di pelosok dan senantiasa menebarkan kebaikan.
Dan saya cemburu kepada A, B, C, D, E, F dan mungkin akan sampai Z.

Beberapa hari ini, saya merasa sungguh sangat tidak berharga.
Saya kembali mencoba merenung, mencari jawaban "benarkah jalan yang sudah saya tempuh ini?"

Mencoba flashback, dan banyak sekali jawaban-jawaban yang menguatkan.
Nikmatilah peranmu saat ini, jalankan saja dengan ikhlas.
Mba, tahu sarang laba-laba kan? Nah begitulah kita di dunia ini. Saling menghubungkan, saling bergandengan tangan, agar bisa menjadi sarang yang indah dan kuat. Mungkin kita merasa ga berarti, tapi mba tahu kan, kalau satu benang dari sarang itu rusak, maka rusaklah keseluruhan sarang. Dan yakinlah, bahwa kita adalah salah satu dari benang di sarang laba-laba itu.
Dan masih banyak lagi.

Dan saya masih mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri. Berusaha menikmati dan memaksimalkan peran saya, sebagai istri, anak, ibu, tetangga, teman, ...