Thursday, 26 January 2017

Tak Akan Pernah Sama

Sungguh,
Tak akan pernah sama,
Orang tua yang pembelajar dan yang tidak
Jika seorang anak boleh memilih,
Dia akan memilih orang tua yang pembelajar

Sungguh,
Tak akan pernah sama,
Dokter yang pembelajar dan yang tidak
Jika seorang pasien bisa memilih,
Dia akan memilih dokter yang pembelajar

Sungguh,
Tak akan pernah sama,
Muslim yang pembelajar dan yang tidak
Jika saya bisa memilih,
Saya akan memilih teman muslim yang pembelajar

Belajarlah,
Belajarlah sepanjang waktu,
Apapun posisi dirimu
Kosongkan gelasmu
Bersihkan hatimu
Perbaiki selalu niatmu

Allah SWT berfirman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,"
(QS. Al-'Alaq: Ayat 1)

#selfreminder

Berbicara Lemah Lembut, Salah Satu Ciri Penghuni Surga

Melanjutkan postingan kemarin, tentang pe-er kami sekeluarga, yaitu belajar berbicara dengan intonasi yang baik. Kebetulan saat istirahat siang tadi, saya mendengarkan ceramah singkat Ust Bahtiar Nasir melalui aplikasi SalingSapa.com dengan tema 'Masuk Surga Sekeluarga'.

Beberapa ciri penghuni surga adalah selalu menebarkan salam, dan berbicara dengan lemah lembut. Alhamdulillah, sore tadi kami mendapat kesempatan untuk berdiskusi tentang hal ini. Bahwa untuk dapat masuk surga, salah satu caranya adalah berbicara dengan intonasi yang baik dan ramah. Karena muslim yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya. Bagaimana bisa menjadi muslim yang paling baik akhlaknya jika masih senang berbicara dengan nada tinggi? Bukankah itu bisa membuat lawan bicara menjadi sedih atau bahkan sakit hati.

Kami sekeluarga berkomitmen untuk saling mengingatkan dan menasehati, agar selalu berbicara dengan lemah lembut, dengan harapan kami bisa 'Masuk Surga Sekeluarga'. Semoga kami bisa istiqamah.

Aamiiin...


#hari2
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Wednesday, 25 January 2017

Sehat dengan Superfood?

***
SCENE 1

Ibu, A sekarang suka minum SKM (susu kental manis), kira-kira boleh ga Bu? Tanya seorang teman, sambil menceritakan anaknya yang usia 7 th.
Berapa banyak? Kalo sesekali ga papa lah, jawab saya.
Sehari bisa sampai 5x Bu, jawabnya.
Hwaaa? Terkejut saya mendengarnya.
Coba dikurangi, bahaya itu. Konsumsi gula terlalu banyak efek jangka panjangnya buruk lho.
Habisnya dia ga mau minum susu formula lagi Bu.
Lho kalau dia ga mau ya sudah, ga usah dipaksa. Asal dia mau makan bervariasi aja insyaAllah ga papa.
Nah, saya takut Bu, kasihan kalo dia ga minum susu.
Kasihan kenapa?
Nanti kalau gampang sakit gimana?

***
SCENE 2

Lagi ngobrol dengan teman-teman kerja yang salah satunya jual minuman kesehatan (glutation + colagen via MLM)

Ayo dicoba. Enak lho rasanya. Atau sekalian gabung dengan bisnisnya? Lumayan lho aku sudah dapat xxx
Iseng saya menimpali. Nah nanti uang gaji habis buat beli minuman itu aja. Ga jadi makan sekeluarga.
Nah Ibu, masak ga pengen sehat? Minum ini bikin sehat lho Bu.

***
Sehat? Hanya dengan minum susu atau minuman kesehatan? Terus terang saya tidak percaya. Susu memang sehat, tapi menyerahkan kesehatan kepada konsumsi susu menurut saya salah. Sesehat apapun makanan, jika dikonsumsi berlebihan, tetap tidak baik.

Berbicara masalah kesehatan, harusnya Rasulullah menjadi salah satu panutan kita. Rasulullah adalah orang yang paling sehat, dan dalam hidupnya hanya pernah mengalami sakit 2x yaitu saat kena sihir, dan saat mau meninggal. Apa resepnya?
1. Sehat, tidak hanya jasmani. Rasulullah menjaga kesehatan jasmani, rohani, spiritual dengan baik
2. Makan halalan thoyyiban.
3. Tidak berlebihan. Rasulullah makan saat lapar, dan berhenti sebelum kenyang. Di salah satu sumber, saya pernah membaca bahwa Rasulullah tidak pernah mencampur makanan lenih dari 2 di dalam piringnya. Ga kaya kita, ada nasi, lauk (macem-macem), sayur, krupuk, sambel, dan lain-lain yang masih bisa dimasukkan.

Saya yakin, walaupun menurut Rasulullah, madu, habatussauda, susu, daging kambing, kurma, minyak zaitun, dan lain-lain itu sehat, Rasulullah tidak menyerahkan kesehatannya pada salah satu jenis makanan tersebut.

Ketika saya mengikuti online course tentang nutrisi di FutureLearn, ada salah satu materi yang membahas tentang superfood. Dan hasil diskusi pun menyatakan, bahwa superfood itu tidak ada. Nutrisi dapat terpenuhi dengan baik jika kita makan makanan yang bervariasi, dan tidak berlebihan.

Allah menciptakan segala sesuatu untuk saling melengkapi. Jadi masih percaya sehat dengan superfood? Saya tidak. Bagaimana dengan anda?

Kreasi Es Sirsak

Yeayyyy, hari ini dapat rejeki tak terduga. Alhamdulillah...

Sepulang dari pusling di Desa Walangkir, tepatnya di Duhat, saya beserta teman-teman yang sedang naik ambulan dan melewati kebun-kebun penduduk, mendadak melihat ibu yang sedang membawa 3 biji sirsak. Sontak saya minta kepada paman sopir ambulan untuk berhenti sejenak dan menanyakan apakah sirsak tersebut dijual.

Paman : Dijual kah sirsaknya?
Ibu : Iya
Paman : Berapa itu 3 biji?
Ibu : Nah, berapa yo? Sepuluh ribu aja gin
Saya : Hwaaa? Sepuluh ribu? Saya mau semua ya Bu. (Sambil menyerahkan uang 20 ribu, karena rasa ga tega, melihat 3 biji sirsak yang besar dan ranum hanya dihargai 10 ribu).
Ibu : Wah kebanyakan ini, sebentar ya saya carikan lagi.

Selang 5 menit kemudian, si Ibu sudah membawa 2 biji sirsak yang berukuran lebih kecil dan setengah matang. Beliau menyerahkan kepada kami dan ga mau diberi tambahan uang lagi. Cukup kata beliau.

Nah, rejeki nomplok kan. Sebanyak 5 biji sirsak kami bawa ke puskesmas. 1 biji yang sudah masak saya bawa pulang, dan 4 biji yang lain dibagi-bagi teman sepuskesmas.

Sesampainya di rumah. Saya dan Duo Binar segera mengeksekusi sirsak tadi. Kami memutuskan untuk membuat es sirsak. Cemilan yang mudah, murah, dan bergizi. Caranya? Daging buah sirsak yang telah dilepas satu per satu dicampur dengan rebusan air gula. Masukin deh ke cetakan. Masukkan freezer dan tunggu sampai beku. Tapi oh tapi, belum sampai benar-benar beku, rupanya Duo Binar sudah ga sabar...

Ketika Kakak Marah

"Arsya, jangan berisik. Aku ga bisa tidur," kata Bintang dengan nada suara tinggi.
Dan kemudian saya pun membalas "Mas, jangan bentak-bentak, ga baik itu," dengan nada yang tak kalah tinggi.

***
Siang yang seharusnya tenang karena mendung dan udara yang sejuk, ternyata tak sanggup mendinginkan hati dan kepala kami.

Ya, saya masih punya banyak pe-er mengenai komunikasi produktif. Kuliah bunda sayang mengenai komunikasi produktif dengan anak membuat saya merasa 'makjleb', terutama poin "kendalikan intonasi dan gunakan suara ramah". Si Kakak jadi bisa membentak karena sering mendengar saya bentak-bentak.

Karena anak-anak tak pernah salah mengcopy.

Saatnya mengevaluasi diri. Jika saya tak ingin mendengar Kakak membentak Adik, saya tentu harus memulai dengan belajar menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara dengan intonasi tinggi.

#hari1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip