Saturday, 15 April 2017

Aliran Rasa "My Family Project"

Alhamdulillah, akhirnya berhasil juga menyelesaikan game level 3 di Kelas Bunda Sayang IIP, dengan tema "My Family Project". Walaupun menyelesaikan tantangan ini tidak dengan tertib alias loncat-loncat, karena Duo Binar yang sakit bergantian.

Dengan adanya tantangan ini, saya merasa bahwa keluarga kami makin kompak dalam menjalani kegiatan-kegiatan yang seringkali muncul secara spontan. Selain itu, antusias suami dan anak-anak dalam mengambil peran di suatu kegiatan sungguh patut diacungi jempol.

Tantangan dan game dalam Kuliah Bunda Sayang ini, ternyata sangat berkaitan, dimulai dari komunikasi produktif dan kemandirian anak. Dan ketika keluarga kami berhasil menjalankan dua tantangan sebelumnya walapun dengan tertatih-tatih, ternyata keberhasilan tersebut sangat membantu keberhasilan tantangan di level selanjutnya.

Saya pun semakin semangat mengikuti Kuliah Bunda Sayang, dengan dukungan suami dan anak-anak yang suka iseng bertanya, "tantangan selanjutnya apa Bu"?

Semoga, perjalanan mengikuti Kuliah Bunda Sayang ini dapat semakin mengikata kebersamaan kami. Aamiin...

Tuesday, 11 April 2017

Minyak Kelapa VS Minyak Kelapa Sawit

Bulan lalu, ketika kami berlibur ke Banjarmasin, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Giant Extra di pal 7. Ketika berkeliling, secara tak sengaja saya melihat minyak goreng merk Ikan Dorang. Saya pun membujuk suami untuk membeli minyak tersebut. Perlu usaha yang lumayan agar dapat "anggukan" dari Ayah, karena harganya hampir 3 x lipat harga minyak goreng biasa. Dengan alasan nostalgia, akhirnya Ayah mengangguk pasrah.

Sesampainya di rumah, saya pun segera mencari tahu apa kelebihan minyak goreng yang terbuat dari kelapa dibanding minyak goreng yang terbuat dari kelapa sawit. Ini merupakan pe er dari suami, kalau mau di acc untuk pembelian minyak goreng kelapa yang selanjutnya.

Sunday, 9 April 2017

Karnaval Tabalong Etnik Festival

Karnaval yang digadang-gadang jadi puncak acara kegiatan Tabalong Etnik Festival 2017 berlangsung hari Minggu, 9 April 2017. Duo Binar sudah menanti-nanti acara ini.

Awalnya saya ragu mengajak mereka berdua, karena mereka sedang dalam masa penyembuhan, dan kebetulan pula Ayah dinas keluar kota. Namun, tak disangka, ada perintah dari Dinkes ke PKM Tanta untuk menjadi tim kesehatan, dan saya ditawari menjadi salah satunya. Dan mendadak saya punya ide, gimana kalau nonton karnavalnya sambil jadi tim kesehatan? Tentunya anak-anak bisa nonton dari dalam ambulance tanpa harus berpanas-panas ria. Ketika saya utarakan ide ini kepada Duo Binar, mereka pun setuju.

Karnaval TEF 2017 ini menampilkan berbagai pesona adat suku Dayak dan Banjar sebagai suku asli daerah Tabalong. Kostumnya lucu-lucu. Asyik dan menarik. Sayangnya menurut saya pemilihan waktunya kurang tepat. Karena acara baru dimulai jam 14.00 WITA, tentu dapat dibayangkan betapa kasihannya para peserta, yang sudah berdandan dan harus membawa aneka aksesoris yang melekat dibadannya. Belum lapi peserta wanita yang harus memakai high heels. Saya lihatnya saja merasa capek.

Alhamdulillah, dari sekian banyak peserta, hanya ada 3 orang yang mampir ke posko kami untuk beristirahat sejenak karena kelelahan dan kepanasan. Alhamdulillah pula Duo Binar dapat menikmati karnaval ini dan melupakan sakitnya.

Friday, 7 April 2017

Proyek Keluarga #day10

Jum'at barakah...

Horeeee, hari jum'at datang. Kami sekeluarga biasa mengantar sampah-sampah anorganik yang telah kami pilah ke bank sampah. Berhubung hari jum'at kemarin kami libur memilah sam pah dan mengantarnya karena si adik sedang sakit, maka jumlah sampah hari ini yang harus kami pilah cukup banyak.

Adik bertugas menyusun sampah kertas agar rapi, dan si kakak membersihkan dan merapikan botol dan gelas mineral. Saya sendiri bertugas menyusun kardus dan bungkus-bungkus plastik kemasan sabun, minyak goreng dan lain sebagainya.

Ba'da ashar, kami segera mengantarnya ke bank sampah. Namun sayang, kami tidak sempat menunggu dan menyaksikan penimbangan, karena harus mengikuti les tahsin untuk yang pertama kalinya.

#tantanganhari10
#level3
#MyFamilyMyTeam
#KuliahBunSayIIP

Tuesday, 4 April 2017

Ketika Hidayah Menyapa

Alhamdulillah...

Sungguh bahagia tak terkira, ketika suami mengajak si sulung mendengarkan kajian salah seorang ustadz via Youtube. Dan ketika isi kajian tersebut 'menyindir' keadaan keluarga kami, mereka bisa saling mengingatkan sambil bercanda.

Saya dan suami berasal dari keluarga yang awam masalah agama. Alhamdulillahnya, orangtua kami selalu mengajarkan untuk melaksanakan sholat 5 waktu, dan jangan lupa membaca Al Qur'an. Ya, sebatas itu. Dan kami pun memulai pernikahan dengan kodal agama yang minim. Sekedar menjalankan kewajiban sholat, puasa, selesai.

Ketika saya mulai berkecimpung di suatu kajian, saya mulai sedikit terbuka, tentang betapa pentingnya untuk belajar ilmu agama. Ilmu yang selama ini dianaktirikan. Namun untuk mengajak suami serta membuka hati dan pikirannya bukan hal yang mudah.

Tetapi akhir-akhir ini, saya melihat suami mulai rajin tilawah, dan mendengar kajian-kajian ustadz via online. Mulai mengajak diskusi anak-anak tentang akhirat, padahal selama ini yang dibahas hanya masalah duniawi saja. Si kakak pun sudah semangat 45 mengerjakan sholat 5 waktu di masjid.

"Ayah tuh pengen lho kayak ayahnya kakak X, masak sambil nunggu jualan sambil baca Qur'an. Ayah masih sering pegang HP aja nih."

"Ibuuuu, aku ke masjid dulu ya, aku mau jadi anak sholih, ga mau jadi anak sholihah."

"Pengen ga Mas nanti kita kumpul lagi di surga? Ayah sih pengen, tapi Ayah nih takut banget nanti ga bisa masuk surga. Rasanya masih ga pantes."

"Waduh, kalo hafalanmu sudah sampai disitu, dan Ayah belum, nanti di surga, kamu di surga yang diatasnya Ayah dong. Trus nanti dadah dadah sama Ayah dari atas?" --> "Ya enggak lah Yah, nanti Ayah kuajak naik ke atas kok."

Sungguh bahagia rasanya ketika saya mulai mendengar diskusi-diskusi kecil seperti ini. Ya, ketika hidayah itu menyapa, sambutlah dia. Jangan pernah lepaskan.