Tuesday, 7 March 2017

Melatih Kemandirian #day6

2 hari ini Ayah lembur dan pulang kerja menjelang isya. Dan itu artinya saya mengatasi segala keruwetan rumah seorang diri. Bagi saya, itu tantangan tersendiri, yang selama ini cukup "ketergantungan" dengan suami.

Beberapa hal yang bisa saya lakukan hari ini tanpa bantuan suami adalah :
● memasang galon. Horee, ternyata saya bisa juga lho
● menyelesaikan tugas pagi memasak, mencuci, merapikan rumah dan mengurus anak-anak sebelum berangkat sekolah tanpa bantuan Ayah. Biasanya ketika Ayah sedang tidak sibuk, kami berbagi peran. Tantangan buat saya agar bisa mengerjakan sendiri, dan selesai tepat pada waktunya.

Untuk Adik, malam ini sudah tidak mengompol lagi. Dan mendadak membuat kejutan. Ketika saya sedang melipat baju, dan dia minta digorengkan telur dadar, saya memintanya untuk menunggu sebentar. Tak disangka, mungkin karena dia merasakan lapar yang amat sangat, Adik membuat telur dadar sendiri. Mulai dari memecah telur, memberinya sedikit garam dan lada, mengocok, menyalakan kompor, memasak, makan, hingga mencuci piring dia lakukan sendiri. Saya pun kemudian iseng-iseng menawarkan, gimana kalo Adik besok jadwal bikin sarapan? Kan udah pinter nih bikin telur dadar. Dia pun menyanggupinya.

Kita lihat besok pagi ya....

#tantangan10hari
#day6
#kuliahbunsayiip
#melatih kemandirian

Sunday, 5 March 2017

Melatih Kemandirian #day5

Tantangan kemandirian...

2 hari ini si kakak mengikuti kegiatan ESQ Kids perdana yang di laksanakan di Pendopo Bupati Tanjung. Materi-materi yang diberikan keren. Mengenai character building, bagaimana membangun karakter anak-anak. Ada sesi dimana orangtua boleh masuk untuk mengikuti kegiatan. Alhamdulillah, si kakak makin berani dan makin percaya diri, termasuk dalam hal tidur sendiri. Semoga bisa berlanjut. Dan besok waktunya mendiskusikan tantangan kemandirian yang baru buat dia. Saya sih kepengen dia mandiri dan bertanggungjawab dengan piring yang dia gunakan setelah makan. Semoga saja dia mau menerima tantangan ini.

Untuk adik, alhamdulillah sukses dengan rutinitas bangun pagi dan segera bersiap-siap menjelang subuh. Tak disangka, 2 malam ini dia kembali mengompol. Entah kenapa. Biasanya jika kurang enak badan, atau sedang kepikiram sesuatu, dia memang terkadang mengompol. Tapi 2 hari ini dia tampak ceria, tidak ada tanda-tanda sakit dan ga ada masalah. Pagi ini, saya ajak dia berdiskusi. Kira-kira apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya.
"Aku juga ga tau Bu, padahal aku sudah pipis tadi malam pas mau tidur."
"Nah nati malam gimana? Mau dibangunkan Ibu untuk diaja pipis?"
"Iya mau."
"Jam berapa adik mau dibangunkan?"
"Malam ini jam 10 ya Bu, besok jam 11, besoknya lagi jam 12, terus kaya itu, sampai jam 5 pagi."
"Oke deh, jadi kita mulai nanti malam ya. Siap."
"Siap!!!"

Semoga berhasil. Semangat semangat semangat!!!

Saturday, 4 March 2017

Melatih Kemandirian #day4

Hari ke-empat...

Sambil terus mengamati perkembangan anak-anak, saya berusaha untuk kembali menengok diri saya sendiri. Di sisi mana saya kurang mandiri?

Kebetulan pula Ayah sedang dinas keluar kota, dan disitulah kemudian saya merasa, bahwa ada hal-hal yang saya sangat bergantung dengan suami. Pengalaman pertama setelah menikah dan tinggal di daerah yang cukup terpencil, tanpa sinyal dan tanpa kendaraan, membuat saya ketergantungan dengan suami dalam hal-hal yang berhubungan dunia luar. Kebiasaan selama 2 tahun itu terbawa hingga sekarang.

Membayar tagihan air, listrik, internet, membeli galon dan tabung gas, iuran keamanan dan kebersihan, hampir semua hal-hal tersebut dilakukan oleh suami. Dan saya baru mengambil alih ketika suami sedang tidak berada di rumah. Jika masih ada suami, maka saya tinggal lapor, dan masalah pun terselesaikan.

Saya akhirnya membuat komitmen untuk diri saya sendiri. Bahwa saya harus bisa dan siap untuk melakukan hal-hal tersebut, tanpa harus merepotkan suami. Jika pun saya tidak bisa melakukannya sendiri, saya harus tahu kemana saya meminta bantuan.

Untuk anak-anak, alhamdulillah hari ini target si kakak untuk berangkat tidur sendiri dapat dilakukan dengan baik. Tinggal menjaga agar dapat konsisten. Sedangkan adik, bisa menjalankan kesepakatan mengenai bangun tidur pagi dengan bantuan alarm.

Semoga besok bisa berjalan lebih baik. Saya, suami dan anak-anak. Aamiin...

#tantangan10hari
#hari4
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Friday, 3 March 2017

Si Pencuri Hati

"Ibuuuu, bangun," teriak Arsya.

"Kenapa Dek, Ibu pusing nih. Ibu istirahat sebentar ya," jawab saya dari balik selimut.

"Buka dulu sebentar," jawabnya.

"Ini ceri buat Ibu," katanya sambil menyodorkan 2 genggam buah ceri ketika saya membuka selimut.

"Waaaa, banyaknya, gimana tadi Adek ngambilnya?"

"Ada yang sampai ke atas atap. Aku bisa lho."

"Wah hebat, makasih ya."

"Iya, ini obat biar Ibu cepat sembuh."

***
Ah, entahlah. Sakit kepala saya langsung hilang. Si kecil ini punya empati yang luar biasa. Beberapa kali saya merasakannya sendiri, dan sering juga melihatnya berempati kepada lingkungan, baik teman, hewan dan juga tumbuhan.

Menawarkan es krim ketika saya mengeluh capek saat menjahit begitu banyak lambang baju pramuka.

Mengambilkan segelas air minum ketika saya terbatuk-batuk karena tersedak.

Bersikap konyol saat ayah datang kerja sehingga senyum ayah langsung mengembang.

Menangis sedih ketika saya tidak sengaja menabrak anak kucing. Setelah selesai menangisi si kucing, mendadak dia menangis lagi. Ketika saya tanya lebih lanjut, ternyata dia takut saya masuk neraka gara-gara menabrak kucing. Sesi ini kami lanjutkan dengan nangis berdua.

Mengajak teman ke rumah, menawarkan makan dan minum ketika tahu temannya tidak bisa masuk ke rumah karena orangtuanya lupa menitip kunci.

Dan banyak lagi kejadian lainnya yang mungkin tidak bisa diceritakan. Tapi sungguh, dia benar-benar pencuri hati.

Thursday, 2 March 2017

Melatih Kemandirian #day3

Ternyataaaa, tantangan melatih kemandirian tidak semudah yang saya bayangkan. Saya harus berani tega dan tegas. Mungkin sebetulnya itu yang menjadi sumber utama masalah. Masih sering merasa kasihan kepada anak.

Hari ketiga, si kakak kembali minta ditemani berangkat tidur. Saya berupaya untuk tetap konsisten agar si kakak belajar tidur sendiri. Berhasil. Namun di tengah malam si kakak gelisah. Saya menuju ke kamar kakak, berusaha menenangkan dan mengajak untuk tidur kembali. Namun disini saya sempat menemani hingga dia tertidur. Duh, saya jadi berasa bersalah.

Untuk si adik, alhamdulillah sudah semangat bangun pagi menjelang subuh, dengan bantuan alarm yang dia minta. Tanpa disertai bermanja-manja. Kami pun membuat kesepakatan bahwa akan menyalakan alarm tiap pagi.

Jalan masih panjang. Masih banyak yang harus saya benahi. Semangat...